Senin, 02 Januari 2012

AMBISI ANTARIKSA MILITER CHINA-Satelit Beidou Ancam Dominasi GPS AS


Pekan ini China mencapai prestasi besar dalam tekad mereka menguasai penggunaan antariksa oleh militer, dengan peluncuran satelit percobaan jaringan pemosisian global (GPS) Beidou.

Langkah ini bisa membawa Negeri Panda itu satu langkah lebih dekat untuk menyamai kemampuan antariksa Amerika Serikat (AS). Kalau Beijing sukses menempatkan seluruh 35 satelit yang direncanakan untuk jaringan Beidou sesuai jadwal pada 2020,militer mereka akan bebas dari kebergantungan navigasi terhadap sinyal GPS AS dan sistem GLONASS Rusia.
Dan,tak seperti versi sipil GPS dan GLONASS yang kurang akurat yang dipakai Angkatan Bersenjata Pembebasan Rakyat (PLA) China, jaringan ini akan memberikan keakuratan untuk memandu rudal,mesiu pintar,dan senjata lain kepada China. ”Ini akan memberikan jalan lompatan besar dalam kemampuan ketelitian serangan PLA,”ujar Andrei Chang, analis militer China berbasis Hong Kong yang juga editor majalah Kanwa Asian Defence, dikutipReuters.

Menurut Kantor Manajemen Navigasi Satelit China, negara itu telah meluncurkan 10 satelit Beidou dan berencana meluncurkan enam lagi akhir tahun depan. Pakar China dan militer asing memaparkan, Departemen Staf Umum dan Departemen Persenjataan Umum China berkoordinasi secara dekat dan mendukung seluruh program antariksa dalam birokrasi sains dan aerospace.

Sebagai bagian sistem ini, jaringan Beidou atau ”Gayung Besar”akan memiliki peranan militer penting bersama jaringan satelit pengintaian, pencitraan,dan remote sensing yang terus meluas. China secara rutin membantah memiliki ambisi militer di antariksa.Juru Bicara Kementerian PertahananYangYujun membantah kekhawatiran bahwa jaringan Beidou akan menjadi ancaman militer, dengan menekankan bahwa seluruh navigasi satelit internasional dirancang untuk penggunaan ganda,yaitu sipil dan militer.

China mempercepat riset dan pengembangan satelit militernya, setelah komandan PLA tahu bahwa mereka tidak mampu menelusuri jejak dua kelompok kapal induk AS yang ditempatkan di Selat Taiwan pada 1996 di tengah tingginya ketegangan antara pulau dan daratan itu. Usaha itu mendapatkan dorongan lebih ketika mereka diperlihatkan betapa pentingnya jaringan satelit pada Perang Teluk 1991,pengeboman Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) atas Yugoslavia pada 1999,dan invasi Irak pada 2003.

”Yang kita lihat adalah China secara meluas mencapai kemampuan yang sama pada area ini, sebagaimana yang dipegang AS,”papar Ross Babbage, analis pertahanan dan pendiri Kokoda Foundation,unit kebijakan keamanan independen yang berbasis di Canberra. Dalam artikel untuk Journal of Strategic Studies, periset Eric Hagt dan Matthew Durnin mencoba memperkirakan kemampuan jaringan antariksa China dengan menggunakan software model orbit dan data yang ada pada satelit.

Menurut mereka,satelit paling dasar China memiliki sensor elektro-optik yang mampu mengambil gambar digital resolusi tinggi.Satelit yang lebih maju memiliki radar celah sintetik yang kuat yang mampu memasuki awan dan mencakup area yang lebih besar dalam detail tinggi. China saat ini menempatkan satelit yang mampu memonitor sinyal dan emisi, yang disebut intelijen elektronik atau platform ELINT.

Sindo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Anda dapat menggunakan acount FB anda untuk posting komentar