Senin, 20 Juni 2011

Filipina Siagakan Kapal Perang

MANILA, KOMPAS.com — Laut China Selatan makin panas. Setelah Vietnam dan China saling memprovokasi dengang menggelar latihan perang di perairan itu, kini giliran Filipina mengirim kapal perangnya ke Laut China Selatan.

Panglima militer Filipina Jenderal Eduardo Oban menyatakan dia tetap optimistis sengketa wilayah laut bisa diselesaikan secara damai dan konfrontasi bersenjata bisa dihindari.
"Kami berharap tidak akan pernah mencapai titik itu (konfrontasi bersenjata)," kata Oban saat melepas kapal Rajah Humabon menuju perairan yang menjadi sengketa antara China, Taiwan, Filipina, Vietnam, Brunei, dan Malaysia.

"Saya optimistis apa pun konflik yang mungkin timbul bisa diselesaikan secara damai dan melalui jalur diplomatik. Meskipun saat ini kita juga harus menegakkan hukum maritim di dalam 200 mil zona laut kita," tegasnya.

Pada Jumat (17/6/2011), Manila menyatakan bakal mengirim kapal Rajah Humabon ke Laut China Selatan, sehari setelah Chian mengumumkan salah satu kapal patroli lautnya akan melintasi perairan itu.

Enam negara, yakni China, Taiwan, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei berebut klaim perairan Laut China Selatan, khususnya Kepulauan Spratly, yang kaya sumber daya alam .

China mengklaim seluruh wilayah perairan itu secara historis merupakan wilayah nelayannya, namun Filipina berargumentasi, berdasarkan Konvensi Hukum Laut PBB, sebuah negara memiliki hak eksklusif atas perairan hingga 200 mil laut dari wilayah daratnya.

Rajah Humabon, dulunya fregat angkatan laut AS yang bertugas pada Perang Dunia II, merupakan salah satu kapal perang tertua dunia. Pihak AS memberikannya pada AL Filipina pada 1980.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Filipina Albert del Rosario bertemu dengan koleganya dari ASEAN dan meminta anggota-anggota ASEAN memiliki suara sama terhadap China mengenai sengketa ini.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anda dapat menggunakan acount FB anda untuk posting komentar